Pernah Juga

anime-love-manga-quotes-Favim.com-1361711

[Pernah juga,

seperti itu.]

Waktu itu, waktu lihat film yang diperankan James Franco, judulnya The Interview, diceritain dia harus ngewawancara lalu ngebunuh Kim Jong-un, tapi di tengah-tengah film malah dia jadi akrab sama Jong-un itu. Dan ada kalimat dari si Kim yang terngiang-ngiang di benakku, yaitu (maaf kalo salah, intinya begini);

you know what’s more destructive than nuclear? words.

Wow, itu bener-bener kaya masuk di ulu hati dan memang efeknya sangat kerasa.

Bener, kata-kata itu bisa lebih menghancurkan dari apapun.

Lalu?

Lalu hari ini, tanggal 6 Juni, salah satu sahabatku ada yang ulang tahun. Aku nggak lupa, karena aku nggak melupakan tanggal-tanggal ultah orang (walau kadang orang itu lupa, tapi biarlah). Dia itu bisa dibilang sahabat yang paling deket, yang paling jadi treasure-ku, karena aku sama dia itu banyak kesamaan. Kami suka ikemen (jangan tanya apa artinya :p), komik, manga, suka gambar, suka cat air, sama-sama gemini, dan sederet kesamaan lainnya.

Tapi kami juga super beda, walau aku nggak akan menjelaskannya di sini. Intinya, dia itu ulang tahun dan aku bukan tipe orang yang ngucapin jam duabelas malam tepat. Aku lebih suka berakting seperti lupa, sibuk, atau apa pada siangnya, lalu mengucapkan pada malam hari.

Kenapa? Karena bisa saja aku jadi penutup ucapan di hari itu, sekaligus malam hari itu adalah waktu terjujur bagi banyak orang. People tend to be honest at night.

Pokoknya aku ngucapin dia panjang sekali (karena aku suka ucapan ulang tahun panjang, yang tidak disadur dari sumber manapun, alias murni dari diri sendiri), lalu sudah kukirim saja ke dia sekitar jam setengah sebelas malam.

Harusnya dia yang nangis baca ucapan dariku, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Aku nangis baca balesan dari dia. Ada bagian dari balasannya yang seperti ini;

ucapan yg paling aku tunggu2 sebenernya dari kamu, haekal, dan ais, tapi kalian bertiga hari ini menghilang kayak tenggelam aku jadi bingung, ternyata, as expected, you always gave me something yg bener2 bisa menyentuh hiks :”((

aku selalu suka kata2mu, jadi jgn pernah berhenti berkata2 untukku dan juga untuk kau salurkan.

you’re my best from any other of my bests

(haekal dan ais itu the most important boys for her, heheh.)

Dan aku nangis baca itu.

Karena apa?

Karena merasa dihargai :’)

||#||

Jadi sebenernya sekitar tiga minggu sebelum itu, aku nggak berada dalam kondisi yang baik sama 5 orang sahabatku yang lain, termasuk si yang ulang tahun itu. Aku yang salah, aku ngaku. Aku terlalu egois dan segalanya yang buruk. Aku ratunya, paling tidak di antara mereka. Lalu semuanya terjadi begitu cepat dan aku merasa runtuh. Apa yang mereka lakukan memang benar, tapi aku merasa diruntuhkan. Entah apanya, entahlah. Mungkin semua egoku diruntuhkan.

Maksudku… hal-hal seperti itu (kekesalan) jika disimpan akan bertumpuk dan jadinya seperti itu. Jadi, kenapa mereka nggak bilang dari awal?

Kenapa? (Hal ini berulang-ulang di kepalaku.)

Tapi kalau dibicarakan dengan cara begini, aku akan membuat banyak alasan dan itu nggak akan membuat perubahan di masa lalu. Jadi mari dilupakan.

Intinya habis kejadian itu, aku merasa sangat-sangat down. Rasanya kaya aku nggak berarti, kaya aku bisa digantikan sama siapapun. Kalau aku menghilang pun, kayanya nggak bakal berpengaruh. I torture myselfyou’re not enough, you’re nothing, so talk less, so be quiet. Let’s not talk. Let’s just listen. Cause you’re not enough, you’re not. Be quiet, think before you speak.

Aku bikin kata-kata begitu, kujadiin wallpaper chat, wallpaper hp, jadi setiap aku chat sama orang, aku baca kata-kata itu dulu. Aku kehilangan percaya diri buat ngomong sama mereka, buat ngadep mereka, buat ngapa-ngapain. Aku kehilangan motivasi. Aku nggak merasa cukup baik buat ngelakuin apa-apa. That’s one of the worst moment in my lifeI didn’t cry, it came to the way people called ‘stress’ and I couldn’t do anything about that.

Aku pikir, apa masa SMA-ku bakal berakhir dengan ginian?

Tapi pada dasarnya, mereka memang orang baik, jadi mereka memaafkan. Aku nggak tau harus bersyukur apa nggak, karena hal itu sebenarnya membuatku makin nggak pantes.

Maka dari itu, waktu si sahabat ngomong balasan ucapan itu, walau aku takut, aku merasa dihargai jadi aku nangis. Padahal kalau dipikir-pikir, cukup berlebihan juga aku nangis karena hal itu. (Atau nggak berlebihan? Entah.)

Jadi gitu.

Kehadiran sahabat dan perasaan dihargai itu benar hebat efeknya (buatku).

Terima kasih, Sahabat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s