yang sedikit, yang banyak

1Mm3jyb5Fq

maksudnya apa, yang sedikit, yang banyak?

yang sedikit, adalah kamu. yang banyak, adalah efekmu di hidupku.
aku masih ingat dulu, jaman dulu sekali ketika waktu berputar dan kuhabiskan untuk membicarakan (yang waktu itu masih duabelas) pemuda rambut warna dari timur sana, setidaknya tahun 2013, aku adalah bukan aku.

lalu dengan sangat tiba-tiba, datanglah sekolah menengah tingkat atas, yang dengan mengerikannya menyenangkan. awfully delight? di sini anak-anaknya mulai heterogen. tapi lama-lama juga biasa. (kupikir itu yang akan terjadi juga padaku waktu kuliah nanti, hmm.)

lihat senggol-senggol lawan jenis, biasa. lihat pacaran ketemuan di tangga, biasa. lihat temen ditembak, biasa. beda banget waktu smp, hal begitu tersebar seperti semut kasih tau kawanannya kalau ada gula-gula.

lalu tiba-tiba, aku diwarnai.

iya, bilang saja itu dramatis. tapi aku mau bilang kalau dia seperti anak tk bawa krayon, pensil warna, cat air, cat poster (eh, anak tk bisa bawa cat poster?), dan piloks.

aku seperti kanvas. memandangnya dalam diam sembari ia tersenyum, tertawa-tawa khas anak kecil, menggerutu waktu warnanya tidak sesuai imajinasi, lalu tertawa lagi. aku sudah pernah bilang belum, kalau aku lemah dengan anak kecil?

awalnya dia bimbang, mencampur-campur warnanya dulu dalam sebuah palet imajiner yang mungkin berupa beberapa ember, mungkin kaleng susu, mungkin kaleng biskuit. sementara aku tersenggol-senggol warna lainnya yang menggores sakit, kadang senang. tapi belum pernah aku diwarnai secara sengaja.

aku, kanvas monokrom, di perawalan tahun baru, ajaran guru.

dan sudah sedikit terwarna.

tapi namanya anak kecil. dia gampang bosan. lari ke sana, ke sini. cabuti rumput orang lain, ambil bunga tetangga, ambil banyak permen dari tangkupan tangan penjaga toko.

lalu kembali lagi. di depanku, dia makan permen itu. buka bungkusnya susah-susah, lalu dimakan, lalu bungkusnya dibiarkan tergeletak. bungkus itu diam disaruk angin melihat dia ambil warna lagi dan fokus denganku.

kasihan, harusnya bungkus itu ditaruh di tempat yang benar.

pertengahan sekolah menengah atas adalah yang terburuk. terbaik, sekaligus terburuk. terbaik, karena, hei, akhirnya aku sadar bahwa aku bisa mewarnai diriku sendiri. terburuk, karena aku tidak belajar bagaimana mewarnai. aku hanya tau ini merah, ini putih. itu hijau. tapi ia mencampurkan terlalu banyak merah dan abu-abu.

anak kecil, tahu apa tentang warna?

lalu di akhir tahun, aku temukan diriku berantakan.

mereka-mereka bilang, coba pakai aseton. atau mungkin minyak rami. atau celupkan dirimu ke terpentin. mungkin bisa juga minta orang lain menggosok bekas-bekasnya. aku meringis, mana bisa aku tahan warna-warna ini dihapus?

warna-warna itu, dominasi merah dan abu-abu, membentuk pola-pola macam lichtenberg yang tidak beraturan di sekujurku. padahal dia hanya anak kecil. hanya sedikit persen dari besarnya kesucian dunia. tapi warnanya memberi efek luar biasa padaku.

aku lihat dia tertawa-tawa; waktunya denganku habis. catnya juga sudah habis. lebar kurva senyumnya dalam pandanganku, tidak kelihatan sama sekali abu-abu. didekap ibunya, ia kembali ke peraduan.

sekolah menengah tingkat atas adalah yang terbaik, sekaligus yang terburuk. aku tetap tidak bisa mewarnai.

1/5/17, 10:21 PM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s